Ya Allah Izinkan Aku Menjadi Solihah (part 1)

IMG-20170526-WA0003

“Berjuang hingga Akhir”, adalah tema kegiatan konser amal Lampung Palestine Ambassador 2017. Namun, kata-kata itu pula mengingatkan diri sendiri, untuk berjuang hingga akhir. Bermujahadah dalam din ini hingga akhir. Berjuang, bukanlah kata yang mudah, dalamnya duri, sungainya bau, melelahkan.

Beberapa tahun yang lalu, pertama kalinya aku ikut konser Palestina, saat ada Opick di gedung Mandala, saat itu, pesertanya banyak, melihat panitianya aku berandai, seandainya … aku jadi panitia konser, mereka tampak luar biasa. Alhamdulillah, aku jadi panitia konser Palestina kali ini.

Salah paham dalam kerja-kerja kebaikan itu hal biasa dan wajar adanya, kala kita melaksanakan tugas dakwah. Seperti kali ini, tetiba koordinator humas ganti, aku berusaha sekooperatif mungkin, dan memang naluri alamiahku saat bertemu orang adalah mungkin terlalu ramah, sehingga orang yang baru pertama kali mengenal akan merasa risih jika dia adalah lawan jenis.

Saya sapa beliau, beliau tampak tak melihat, saya coba ramah, tampak tak melihat, lalu baru menjawab. Aku dan seorang adik, sudah berapa kali bolak-balik ke GOR, tapi kami tidak tau mana orangnya yang harus kami temui.

Aku fast respond di grup, aku jawab,” udah, bla bla …”
“Nanti lagi sarapan, biar kuat menghadapi kenyataan.” oke, dari pesan itu sepertinya orangnya ramah.

Sampai kami untuk kesekian kalinya kembali ke GOR, wah kami kaya orang ilang, kemarin panitia bilang alat akan disediakan, ya sudah kami kira memang kami ‘boleh’ dipinjami alat dokumentasi.

Ada kakak-kakak yang baik, setidaknya ‘bisa’ diajak komunikasi, beliau bilang cameranya lagi dicharge. Tapi aku tak yakin, namun sang adik tampaknya masih semangat meminta camera tersebut pada kakak-kakak ‘horor’ itu (maaf ya kak),

“Kak cameranya bla bla bla.” ucap adik.
“Bla bla … atau bantuin konsumsi.” ucap kakak ‘itu’, sambil mengarahkan tangannya, dari kata-katanya kaya ngusir gitu.

“Mau buat rilis berita.”

“Ya rilis tinggal rilis aja.” ucapnya.

“Memangnya rilis berita nggak pake foto.” batinku.

Saat kami pergi menjauh, terutama aku cuma bisa ngeromet, toh kami minta foto dari mereka itu karena supaya dapat foto terbaik, lagi pula kamikan satu tim, tim humas plus rilis berita. Mestinya sebagai koordinator (walau pengganti) bersosialisasi yang baiklah, kesan pertama itu sangat menentukan frame orang lho.

Sampai, kami meminta foto dari seorang akhwat, dia satu-satunya harapan kami, awalnya agak kurang welcome, dan beliau bilang,”Nanti kasih tau ya kalo ada wartawan.”

“Aku wartawan.”

“Oh mba wartawan?” akhwat itu langsung, mencarikan foto untuk kami. Sebenarnya, biasanya kami rilis berita pun hanya bermodal kamera hape android, hanya saja karena kami ini kan dijadikan satu tim,  dan seperti mandat ketua pelaksana kalau bisa tiap kegiatan ada rilis beritanya. Pagi itu kami mau naikin berita, supaya masyarakat yang baca jadi tau dan tertarik untuk datang saat konser nanti, makanya kami buru-buru mau foto. Sepertinya tidak banyak yang paham, pentingnya rilis berita saat acara sedang berlangsung, karena bisa menarik minat orang.

Sesumbar koordinator pengganti bilang di grup, kalau ada wartawan kasih syal Palestine, bukan fokus ke syalnya ya, tapi ke kata wartawan. Ketua baru saya ini nggak ngeh, saya dari tadi bilang “rilis”, wartawan di depan dia, dia nggak mudheng. Jarang-jarang ada penulis (buku) nyamperi orang biasa, wkwkw pikiran nakalku mulai jadi.

Aih sudahlah. Hapepun jadi. Toh biasanya juga kami ini pakai hape. Bahkan seorang blogger dan wartawan senior yang kutemui aja pake hape.

“Pak, posisi dmana, kami kaya orang ilang nih.” ucapku ke koordinator lama.

“In syaa Allah sampai jam 11.” ucap bapak koor yang lama.

Sambil nunggu ‘bapak dadakan’ kami keliling-keliling.

“Koordinator kok ga kooperatif. ”

“Kakaknya kaya gitu sih.” ucap adik.

“Mba….”
“Udah ah kita sok asyik aja.”

Kami keliling-keliling, jumpa alumni 212 yang lumayan banyak, kami tegur sapa dengan ikhwah Metro, dan tegur sapa dengan panitia, dan peserta lomba. Kakak rohis kami (murobi) mengajarkan, untuk senyum, salam, sapa, sopan, santun. Supaya orang nggak gagal paham sama Islam. Kalau Islam itu nggak horor.

Menjaga sangat boleh, tapi jangan berlebihan, liat situasi dan kondisi, toh kami ini adik-adikmu yang alangkah indahnya jika moment tersebut dijadikan  moment menyambung silaturahim sesama ummat.

Bekerja dalam kerja dakwah memang, wajar adanya terjadi salah paham, dan biarkan ini menjadi perjuangan kita, masing-masing. Sekecil apapun yang kita lakukan, Allah telah mencatatnya sebagai amal. Mudah-mudahan menarik rahmat Allah Swt. Aamiin.

Mohon maaf lahir dan bathin semuanya… ^_^
Tulisan ini hanya coretan hati saja, sebagai pewarna dalam perjalanan ini.

Iklan

Artis Hengky Kurniawan Perkenalkan Banana Foster kepada Para Blogger Lampung

TB1

Pemain film dan sinetron Hengky Kurniawan ternyata ingin menambah kariernya di bidang bisnis kuliner. Bisnis kuliner milik Hengky ini berupa olahan pisang, yang ia kembangkan dari pengalaman kulinernya saat di Amrik, dan bisa menjadi kuliner khas daerah.

Tentunya untuk mengembangkan usahanya tersebut, Hengky Kurniawan tak lupa melakukan berbagai kegiatan promo sebelum grand opening pada bulan Juni 2017 nanti. Hengky mengadakan meet and greet bersama para blogger yang ada di Lampung pada 18 Mei 2017, di Batiqa Hotel, bersama  komunitas Tapis Blogger. Tapis Blogger sendiri adalah komunitas blogger yang begitu aktif di dunia maya, para anggotanya mulai dari wartawan junior sampai wartawan senior, bahkan beberapa dari mereka juga adalah seorang penulis lokal maupun nasional.

Ada 5 varian rasa Banana Foster Lampung, seperti Banana Foster Caramelized, Banana Foster Cheese. Banana Foster Nutella. Banana Foster Peanut. Banana Foster Chocolate. Harga dibanderol 50K perbox. Nantikan launchingnya, 9 Juni 2017!

Oleh : Betty Permana
IG :@bettypermana

Si Moli yang Sombong

kuc

Di halaman rumah bercat putih besar satu keluarga kucing Angora tinggal. Keluarga kucing itu terdiri dari tiga ekor kucing. Ayah, ibu, dan Moli si anak kucing. Setiap hari mereka menemani ceria hari-hari keluarga Tuan Sam. Tuan Sam dan putrinya sangat menyayangi mereka. Mereka mendapatkan perawatan dan perlakuan yang baik dari keluarga Tuan Sam. Halaman rerumputan yang lapang dan bola-bola kecil membuat Moli senang bermain di halaman. Kadang jika ia bosan bermain dengan ibunya, ia bermain sendiri dengan bola-bola kecil sebagai mangsanya. Ia juga sering bermain dengan Micelle putri Tuan Sam. Moli sangat senang jika Micelle sudah memanggilnya. Biasanya ia akan menggendong dan mengelus-elus dirinya.

Suatu hari Moli sedang bermain di halaman yang luas. Tiba-tiba ada yang melihatnya dari kejauhan. Moli merasa terganggu.

“Hey, kamu dari tadi liatin aku terus?!” ucap Moli mengagetkannya.

“Eh, maaf. Wah, kamu bersih sekali, cantik lagi dengan pita di kepalamu.” ucap seekor kucing belang kuning. Moli tertawa kecil.

“Tentu saja! Memangnya kamu! Kamu kotor dan bau!” jawab Moli tanpa pandang. Kucing belang kuning jadi merasa tidak enak.

“Maaf ya. Tapi boleh ngga kita berteman? Namaku Ketty. Rumahku ada di gang sebelah rumahmu. Tapi masih jauh berkilo-kilo. Tapi aku sering lewat sini dan melihatmu…”

“Berteman? Namamu Ketty? Kucing kampungan sepertimu tak pantas diberi nama Ketty…”

“Kalau namaku Inem pasti kamu juga akan tertawa. Ya sudah aku pergi dulu ya… Da..da…” ucap Ketty seraya tersenyum. Moli hanya membuang muka.

Tiba-tiba pintu gerbang terbuka. Tampak dari langkah sepatunya, tak lain adalah Micelle. Moli segera menyambut kedatangannya. Lalu Micelle segera mengangkat dan menggendongnya dengan kasih sayang. Di luar pagar rumah Micelle, Ketty dan teman-temannya pergi.

“Tadi kamu bicara dengan siapa?” ucap si Loreng pada Ketty.

“Oh tadi itu, si cantik Moli. Aku ingin sekali berteman dengannya. Sebenarnya aku kadang kasian sama dia. Dia sering main sendiri. Tapi waktu aku dekati, sepertinya ia tak suka denganku…” ucap Ketty dengan wajah murung.

“Orang seperti kita ini mana bisa berteman dengan kucing kota dan kaya macam Moli. Apalagi kita ini cuma kucing kampung…” ucap Bulbul kucing berwarna putih dan gemuk.

Keesokan harinya Moli dan keluarganya sedang menikmati hangatnya mentari, sambil memakan hidangan yang sudah Micelle siapkan.  Moli dengan lahap memakan makanan yang tampak lezat itu.

“Moli hati-hati makannya sambil duduk dan tidak main-main, nanti bisa tersedak…” ucap ibu menasehati dengan lembut.

“Iya Ibu…” ucap Moli tersenyum seraya mengelus-elus kepalanya, ke tubuh ibunya. Dari kejauhan tiba-tiba terdengar suara berisik-berisik. Ayah sedikit menoleh ke arah suara. Lalu kembali menyantap sarapan. Moli lalu mendekati sumber suara. Ia berjalan menuju gerbang depan rumahnya. Ia lihat dari sela-sela pintu gerbang. Matanya melihat dengan tajam.

“Kamu lagi rupanya?” sapa Moli dengan sinis. Ketty hanya menyimpulkan senyum. Lalu teman-teman Ketty ikut tersenyum.

“Kami sedang bermain tikus-tikusan. Kamu mau ikut?” ucap Ketty.

“Gak mau!” ucap Moli dengan sombong.

“Asyik kita bisa main lumpur bersama… Enak lho main sama-sama.” ucap Loreng.

“Ayolah pasti kamu di sana hanya main sendiri kan?” ucap Ketty.

“Tidak mau ya tidak mau…” ucap Moli.

“Ayo…” ucap Loreng seraya melambaikan tangan. Tapi tanpa sengaja lambaian tangannya terlalu kuat dan sebagian lumpur mengenai Moli.

“Au!” Moli mengelap badannya yang terkena lumpur.

“Uupst! Maaf… “ Loreng jadi takut.

“Kalian ini….” seru Moli kesal. Mereka langsung berlari. Lalu ibu Moli menghampiri.

“Ada apa Moli? Kenapa marah-marah?” ucap ibunya lembut.

“Lihat Bu, badanku terkena lumpur….” ujar Moli.

“Gampang nanti bisa dibersihkan. Lagi pula hanya sedikit. Oya siapa tadi mereka?” ucap ibu.

“Mereka kucing kampung sebelah, mau ngajak Moli main. Tapi Moli ngga mau…” jawab Moli.

“Moli mereka itu anak baik lho. Ibu sering melihat mereka saat berjalan-jalan bersama Micelle. Lagi pula tdak mengapa jika kamu mau bermian dengan mereka. Selama ini kamu hanya sibuk sendiri. Kalau terbiasa main dengan mereka kamu bisa lebih paham akan kehidupan ini.”

“Ibu maksudnya apa?” Moli tak mengerti. Lalu ibunya tersenyum.

“Mereka itu adalah orang-orang yang hidupnya tidak seperti kita. Mereka serba kekurangan tapi mereka selalu ceria. Mereka senang membantu dan mereka terkadang ikut mencari makan sendiri di luar. Tidak seperti kita makanan lezat sudah siap dihidangkan.”

“Tapi mereka sering bermain lumpur dan kotor…” ucap Moli.

“Moli…Moli…” ucap ibu seraya memeluknya.

Hari Minggu tiba. Pagi-pagi saat matahari mulai menyapa bumi dengan senyum hangatnya, Micelle membawa Moli. Micelle mengajak Moli jalan-jalan sambil menghirup udara pagi yang segar. Saat sampai di sebuah taman. Tampak Ketty dan teman-temannya sedang mengais sesuatu di tempat sampah.

“Itukan Ketty? Kasihan juga ya. Tapi…” ucap Moli dalam hati.

Tiba-tiba Micelle memanggil kucing-kucing itu dan membawakan sebungkus makanan. Merasa dipanggil, Ketty, Loreng, dan Bulbul mendekati Micelle.

“Miauw… Miauw…” ucap mereka kepada Micelle seraya mengelus kaki Micelle.

“Kucing-kucing makanlah….” ucap Micelle kepada mereka. Mereka saling berpandangan dan merasa senang. Lalu Ketty tersenyum pada Moli. Moli pura-pura tak melihat. Lalu mereka makan sambil mengeong mengucapkan terima kasih. Moli merasa bosan seketika dan merasa tak diperhatikan oleh Micelle. Lalu Moli berniat untuk segera pergi pulang tanpa sepengetahuan Micelle.

Tiba-tiba terdengar suara mobil mengklakson dengan keras.

“Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin…..!!” bunyi klakson mobil.

“Aaaaaaaa……………..!” teriak Moli yang belum terbiasa menyebrang sendiri.

Lalu secepat kilat Ketty dan kawan-kawan menolong Moli. Ketty menarik tangan Moli hingga keduanya terjatuh dipinggiran jalan. Lalu Micelle segera mendekati mereka.

“Kucingku… Kucingku… Kamu ngga apa-apa?” ucap Micelle. Moli hanya mengeong dan masih gemetaran.

“Kucing-kucing malang kalian baik saja-kan?” ucap Micelle. Mereka mendekati Micelle dan mengelus kaki Micelle.

“Syukurlah…” ucap Micelle seraya mengelus kepala mereka dan memberinya makanan lagi. Setelah itu Micelle membawa Moli pulang.

“Untung saja ada mereka.” ucap Micelle seraya mengelus Moli sambil tersenyum. Moli merasa sedih. Moli merasa malu dan ia pun belum mengucapkan terima kasih kepada Ketty dan teman-temannya. Ia hanya diam digendong Micelle.

Tiba-tiba Moli loncat dari gendongan Micelle.

“Hey…” Micelle terkejut. Lalu Moli berlari mendekati Ketty. Ketty heran kenapa Moli berlari ke arahnya. Moli langsung memeluk Ketty.

“Ketty maafkan aku ya… Maafkan perilakuku selama ini.” ucap Moli seraya menangis.

“Iya, aku maafin kamu…” ucap Ketty tak bisa menahan air mata.

“Terima kasih ya. Kalian semua sudah menolongku…” ucap Moli sambil tersenyum. Ternyata kalau tersenyum dia jadi tampak cantik. Merekapun ikut tersenyum dan mengeong.

*Juara 2 Cernak Se-Lampung 2013

Sedingin Salju Di Malam Vale

salju

“Aku merasa belakangan ini, Kenji selalu menghindariku. Aku tak tau sebabnya mengapa? Hanya saja belakangan tampak aneh. Apalagi di saat-saat tertentu. Ia selalu miminta izin padaku. Nyaris lima kali sehari. Itu membuatku kesal!” bisik Yuka pada malam yang mulai temaram. Ia memandang ke luar jendela. Pandangannya menyapu halaman depan rumahnya. Tampak halaman yang cukup luas, dengan tata landscape bergaya Eropa. Ada sebuah patung Cupid sedang membawa guci yang mengalir air dari dalamnya. Gemericik air samar terdengar. Bola lampu yang menghiasi taman, masih memendarkan cahayanya.

Salju turun dengan tenangnya di bulan Februari. Memberikan hawa dingin dan tampilan serasi berupa warna putih. Suasana nampak begitu berbeda dari musim lainnya. Salju juga berperan meredam suara, sehingga haripun tampak sunyi. Sesunyi hatinya malam ini. Ia membalikkan badannya ke dalam kamarnya. Ada kalender yang terpajang di atas meja rias. Pada bagian tanggalnya, tampak melingkar goresan spidol berwarna merah muda. Empat belas, bulan Februari, dua ribu dua belas.

“Dua hari lagi..” ucap Yuka.

***

Pagi itu di sebuah universitas ternama, Tokyo University, para mahasiswa mulai berdatangan. Bangunan yang kokoh tampak berjajar mengiringi mereka. Pohon Cerryblossom berbaris seperti menyambut para mahasiswa yang datang. Namun, tampak tinggal rantingnya dengan tumpukan bak kapas-kapas putih yang dingin. Suhunya mencapai tiga derjat celcius. Bahkan bisa terhempas hingga minus satu. Semua orang mengencangkan mantelnya. Memakai sarung tangan, topi woll, juga syal. Dan beberapa mengenakan sepatu boots.

Wanita bermantel kulit rusa, yang dikombinasi warna hijau toska dengan sepasang sepatu boots, berlari-lari kecil. Sepasang mata lentiknya, tertuju kepada seorang lelaki.

“Kenji!” Yuka memanggil dari balik badan lelaki berambut coklat kastanye. Rambutnya yang lurus dibuat berombak pendek. Dengan hairwax untuk menciptakan bentuk lebar melancip di ujung rambutnya. Hingga menimbulkan kesan jatuh pada semua sisi rambutnya. Modern dan futuristik. Mirip seperti hairstyle pemain dorama Jepang yang populer. Kenji memutar badan, dan mengulum senyum.

“Hey!” sapa Kenji. Tampak udara mengepul diantara suara yang dihasilkan. Salju turun menghiasi langit Tokyo, tepatnya di Ueno.

“Apa belakangan ini, kau tengah menyelesaikan skripsimu, Ken?” tanya Yuka menyelidik.

“Oh, tentu .…” Kenji tampak gagu.

“Kapan ada waktu, Ken? Membicarakan kelangsungan hubungan kita. Oya, Selasa besok sepertinya pihak universitas memberikan libur. Pasti kau juga..” Yuka berharap Kenji ada waktu untuknya.

“Ah, oh …” Kenji terbata.

“Kau tampak tak bersemangat, Ken? Aku minta maaf jika, kata-kataku waktu itu menyinggungmu. Aku tak bisa meredam emosi. Jujur aku merasa kau mengabaikanku sebagai kekasih. Aku kehilanganmu, Ken!” Yuka menyesal.

“Ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu, Yuka. Tapi mungkin belum saatnya. Sungguh aku mencintaimu .…” Kenji memasukkan jemarinya pada saku celananya. Yuka memperhatikan gerakannya. Ada perasaan dingin dan tak biasa yang diisyaratkan Kenji. Sebagai kekasih, untuk apa memasukkan tangan ke dalam saku. Yuka merasa butuh jemari Kenji menggamit jemarinya. Tapi, Yuka hanya diam mematung, memendam keinginannya. Airmata Yuka jatuh perlahan. Angin semakin dingin berhembus.

Ada lorong jiwa yang satu, merasakan sebagian sayapnya patah. Tercerai. Namun, ini adalah bagian dari kehidupannya yang baru. Memilih jalan hidup dengan kayakinan yang terpatri.

Kenji hanya mencatut sepi, seraya memandang gadis pujaan hatinya. Semua orang berlalu lalang di dekat mereka. Membicarakan perayaan romantisme yang tinggal satu hari lagi. Bahkan pernak-perniknya menghiasai ruang universitas. Semua yang berlalu-lalang, hampir berjalan berpasangan. Mereka telah sibuk merencanakan sebuah pesta di malam yang indah, malam Valentine.

“Aku menunggumu di Ueno Park, pukul tujuh malam. Aku harap kau bisa hadir .…” ucap Kenji seraya mengulas senyum. Lalu senyumnya, perlahan menghilang ditelan kerumunan orang-orang. Yuka hanya diam memandanginya berlalu. Ada seberkas senyum menggurat di wajahnya.

***

Ueno Park pada malam yang dinanti.

Ueno Park adalah sebuah taman umum yang berada di kawasan Ueno, distrik Taito-ku, Tokyo. Nama resminya adalah Taman Ueno Pemberian Kaisar. Taman seluas sekira 530 ribu meter persegi ini, dikelola Dinas Pekerjaan Umum Tokyo. Di sebelah selatan taman, terdapat kolam luas bernama kolam Shinobazu.

Di musim panas, sebagian permukaan kolam dipenuhi dengan indahnya daun-daun hijau dan merah muda bunga tanaman seroja. Di musim dingin, burung-burung migran menggunakan kolam Shinobazu sebagai tempat tinggal sementara, hingga datangnya musim semi. Di musim semi, taman Ueno populer sebagai tempat melihat bunga sakura. Ketika bunga sakura sedang mekar-mekarnya, taman ini ramai dengan orang yang datang berkelompok-kelompok untuk melakukan hanami.

Pada malam ini, sepanjang jalan dekat taman. Kedai-kedai makanan tradisional, restoran kecil dan galeri-galeri tampak lebih meriah dari hari biasanya. Mereka menggunakan pernak-pernik berwarna merah dan merah muda. Ucapan happy Valentine bisa ditemui hampir di setiap sudut kedai. Walaupun salju terus turun, namun orang-orang tetap pergi untuk jalan-jalan.

Di Ueno Park juga ada sebuah pertunjukan. Diambil dari dorama Jepang yang tak kalah menariknya dari kisah Romeo dan Juliet, Aishiteru. Para pengunjung memenuhi kursi yang disediakan. Yuka menunggu kedatangan Kenji. Yuka mengenakan mantel bulu panjang hingga kelutut. Malam ini, ia serasikan dengan malam Valentine. Mantel bulunya, sepatu bootsnya, dan topinya semua berwarna merah muda.

Dari kejauhan ia melihat Kenji. Kenji tampak biasa saja. Ia pun urung memberikan coklat spesial untuk Yuka.

Di Jepang, perayaan Valentine pada tanggal 14 Februari, merupakan jadwal para kaum lelaki memberi kado untuk wanita. Biasanya berupa coklat. Jika orang itu spesial, maka coklat yang diberikan adalah yang spesial pula. Tapi jika hanya menggapnya teman maka mereka akan memberikan coklat putih, atau coklat yang murah. Dan perempuan, untuk membalas kadonya adalah saat white day. Yaitu tanggal 14 Maret, bertepatan dengan musim semi. Lalu Kenji mengajaknya menjauh dari tempat pertunjukan. Mereka berhenti dekat sebuah bangku taman. Mereka hanya berdiri, sembari memandangi kerlip lampu dan rangkaian bunga, menghiasi sekitar taman.

“Ada hal yang inginku ceritakan padamu, Yuka. Sebelum kita benar-benar menjadi salju yang meleleh di musim semi. Biarkan ku rasai hati ini melumer sedikit demi sedikit, tentang apa yang telah ku yakini, kini. Maafkan aku, aku tidak bisa bersamamu lagi, Yuka. Dan tentu kita tidak bisa merayakan Valentine. Aku minta maaf .…” ucap Kenji seraya memutar wajahnya ke arah Yuka, lalu berbalik ke hadapan semula.

“Adakah seseorang menawan hatimu? Kita tidak bisa tidak merayakannya, Ken! Dan kita adalah pasangan sejati. Sudah tiga tahun kita jalani ini. Lalu apa kata orang tua kita? Kita harus tetap bersama! Dan malam ini, akan tetap ada Valentine!!” sanggah Yuka.

Kenji melepaskan mantel bulunya. Ia juga mencopot topi bundar panjang, yang menutupi hingga telinganya. Apa yang Yuka lihat, benar-benar membuatnya tercengang. Ia sangat tahu, apa yang dikenakan Kenji mirip seperti mahasiswa Indonesia dan Timur Tengah Dan apakah itu artinya? Yuka menggeleng keras, menampik pikirannya yang sempat menerka.

“Saat ini aku telah muslim, Yuka .…” jelas Kenji. Mantel dan topi tebalnya berganti pakaian gamis, dan sebuah sulaman peci putih.

“Tidak, Ken! Bukankah kau membenci segala sesuatu berbau dengan Islam? Kau lupa ketika kau pernah membentak seorang mahasiswa Indonesia, lantaran ia sering meminta izin untuk berdoa. Padahal saat itu, kau sedang menyampaikan makalah. Kau tau Ken, kita menyukai anjing, dan mereka tidak. Bahkan seperti jijik! Kau bukan Kenji!” sanggah Yuka. Matanya nanar. Ditahannya gejolak yang membadai di jiwanya.

“Aku memang bukan Kenji yang dulu, Yuka. Kini aku bernama Ahmad. Atau lebih tepatnya Muhammad Kenji Abdullah!”

“Ingat Kenji, apakah Tuhanmu mau menerimamu? Sedang kau banyak berbuat jahat kepada pengikutNya!”

“Maafkan aku Yuka. Ini adalah jalan yang telah ku pilih. Bahkan Ia menunjukkan jalan cintaNya padaku secara tiba-tiba dan sangat menghentak jiwaku. Hanya bisa dirasakan ketika pintu hidayah telah menyapamu. Aku tetap tidak bisa berbalik arah. Meski aku harus belajar dari awal, dan tentu akan banyak halangan yang ku temui nanti. Mungkin teman-teman satu organisasi kerohanian, akan marah padaku. Tapi itu tidak masalah. Aku yakin mereka menerima perbedaan ini. Sungguh, betapa aku masih tetap ingin menjalani sebagian hidupku bersamamu dan ikut merayakan Valentine. Tapi aku tidak bisa, sebagaimana agamaku melarang untuk mengikuti ajaran agama lain. Dan melarang, meski hanya ikut memperingatinya saja.” jelas Kenji.

“Dungu kau, Ken! Penjaga neraka mana yang telah melibas pikiranmu?!” Yuka tak bisa meredam emosi.

“Dan, aku harap kau memanggilku dengan sebuatan Ahmad! Aku percaya kau adalah orang yang sangat menghargai perbedaan. Suatu hari kau akan menerima perbedaan ini. Aku yakin pada hatimu yang masih seperti jasmine.” Kenji memberikan setangkai chrysant dan sebuah buku. Sebuah pemberian terakhirnya, dan permohonannya sebagai sahabat. Yuka memandangnya sekilas, “Mencari Damai dengan Napas Islam”.

Yuka tak bisa meredam emosinya. Suaranya menangis sesenggukan. Yuka menghempaskannya ke tanah putih yang dingin. Yuka kemudian berlari meninggalkan Kenji. Langkah kakinya yang cepat sempat menginjak hadiah pemberian Kenji.

Alhamdulillaah, semoga ini bisa menebus kesalahanku padaMu, Robbi .…” ucap Kenji lirih.

Kenji mengepalkan jemarinya meneguhkan keyakinannya. Ada tetesan bagai bola kristal yang pecah, menggelincir pelan di wajah Kenji. Sayangnya Yuka tak mengetahui.

Tulisan ini terinspirasi dari dua sahabat mbak Yazmin Aisyah dan kak Agus Kindi. Banyak belajar dari penulis seperti mereka.^_^

Oleh: Betty Permana  (Sedamai Lazuardi)

Anggota FLP cabang Metro

Terbit di Majalah Asy-Syifa edisi 1 (Januari-Februari 2012)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Naskah di halaman selanjutnya.

 

 

Sedingin Salju Di Malam Valentine

“Aku merasa belakangan ini, Kenji selalu menghindariku. Aku tak tau sebabnya mengapa? Hanya saja belakangan tampak aneh. Apalagi di saat-saat tertentu. Ia selalu miminta izin padaku. Nyaris lima kali sehari. Itu membuatku kesal!” bisik Yuka pada malam yang mulai temaram. Ia memandang ke luar jendela. Pandangannya menyapu halaman depan rumahnya. Tampak halaman yang cukup luas, dengan tata landscape bergaya Eropa. Ada sebuah patung Cupid sedang membawa guci yang mengalir air dari dalamnya. Gemericik air samar terdengar. Bola lampu yang menghiasi taman, masih memendarkan cahayanya.

Salju turun dengan tenangnya di bulan Februari. Memberikan hawa dingin dan tampilan serasi berupa warna putih. Suasana nampak begitu berbeda dari musim lainnya. Salju juga berperan meredam suara, sehingga haripun tampak sunyi. Sesunyi hatinya malam ini. Ia membalikkan badannya ke dalam kamarnya. Ada kalender yang terpajang di atas meja rias. Pada bagian tanggalnya, tampak melingkar goresan spidol berwarna merah muda. Empat belas, bulan Februari, dua ribu dua belas.

“Dua hari lagi..” ucap Yuka.

***

Pagi itu di sebuah universitas ternama, Tokyo University, para mahasiswa mulai berdatangan. Bangunan yang kokoh tampak berjajar mengiringi mereka. Pohon Cerryblossom berbaris seperti menyambut para mahasiswa yang datang. Namun, tampak tinggal rantingnya dengan tumpukan bak kapas-kapas putih yang dingin. Suhunya mencapai tiga derjat celcius. Bahkan bisa terhempas hingga minus satu. Semua orang mengencangkan mantelnya. Memakai sarung tangan, topi woll, juga syal. Dan beberapa mengenakan sepatu boots.

Wanita bermantel kulit rusa, yang dikombinasi warna hijau toska dengan sepasang sepatu boots, berlari-lari kecil. Sepasang mata lentiknya, tertuju kepada seorang lelaki.

“Kenji!” Yuka memanggil dari balik badan lelaki berambut coklat kastanye. Rambutnya yang lurus dibuat berombak pendek. Dengan hairwax untuk menciptakan bentuk lebar melancip di ujung rambutnya. Hingga menimbulkan kesan jatuh pada semua sisi rambutnya. Modern dan futuristik. Mirip seperti hairstyle pemain dorama Jepang yang populer. Kenji memutar badan, dan mengulum senyum.

“Hey!” sapa Kenji. Tampak udara mengepul diantara suara yang dihasilkan. Salju turun menghiasi langit Tokyo, tepatnya di Ueno.

“Apa belakangan ini, kau tengah menyelesaikan skripsimu, Ken?” tanya Yuka menyelidik.

“Oh, tentu .…” Kenji tampak gagu.

“Kapan ada waktu, Ken? Membicarakan kelangsungan hubungan kita. Oya, Selasa besok sepertinya pihak universitas memberikan libur. Pasti kau juga..” Yuka berharap Kenji ada waktu untuknya.

“Ah, oh …” Kenji terbata.

“Kau tampak tak bersemangat, Ken? Aku minta maaf jika, kata-kataku waktu itu menyinggungmu. Aku tak bisa meredam emosi. Jujur aku merasa kau mengabaikanku sebagai kekasih. Aku kehilanganmu, Ken!” Yuka menyesal.

“Ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu, Yuka. Tapi mungkin belum saatnya. Sungguh aku mencintaimu .…” Kenji memasukkan jemarinya pada saku celananya. Yuka memperhatikan gerakannya. Ada perasaan dingin dan tak biasa yang diisyaratkan Kenji. Sebagai kekasih, untuk apa memasukkan tangan ke dalam saku. Yuka merasa butuh jemari Kenji menggamit jemarinya. Tapi, Yuka hanya diam mematung, memendam keinginannya. Airmata Yuka jatuh perlahan. Angin semakin dingin berhembus.

Ada lorong jiwa yang satu, merasakan sebagian sayapnya patah. Tercerai. Namun, ini adalah bagian dari kehidupannya yang baru. Memilih jalan hidup dengan kayakinan yang terpatri.

Kenji hanya mencatut sepi, seraya memandang gadis pujaan hatinya. Semua orang berlalu lalang di dekat mereka. Membicarakan perayaan romantisme yang tinggal satu hari lagi. Bahkan pernak-perniknya menghiasai ruang universitas. Semua yang berlalu-lalang, hampir berjalan berpasangan. Mereka telah sibuk merencanakan sebuah pesta di malam yang indah, malam Valentine.

“Aku menunggumu di Ueno Park, pukul tujuh malam. Aku harap kau bisa hadir .…” ucap Kenji seraya mengulas senyum. Lalu senyumnya, perlahan menghilang ditelan kerumunan orang-orang. Yuka hanya diam memandanginya berlalu. Ada seberkas senyum menggurat di wajahnya.

***

Ueno Park pada malam yang dinanti.

Ueno Park adalah sebuah taman umum yang berada di kawasan Ueno, distrik Taito-ku, Tokyo. Nama resminya adalah Taman Ueno Pemberian Kaisar. Taman seluas sekira 530 ribu meter persegi ini, dikelola Dinas Pekerjaan Umum Tokyo. Di sebelah selatan taman, terdapat kolam luas bernama kolam Shinobazu.

Di musim panas, sebagian permukaan kolam dipenuhi dengan indahnya daun-daun hijau dan merah muda bunga tanaman seroja. Di musim dingin, burung-burung migran menggunakan kolam Shinobazu sebagai tempat tinggal sementara, hingga datangnya musim semi. Di musim semi, taman Ueno populer sebagai tempat melihat bunga sakura. Ketika bunga sakura sedang mekar-mekarnya, taman ini ramai dengan orang yang datang berkelompok-kelompok untuk melakukan hanami.

Pada malam ini, sepanjang jalan dekat taman. Kedai-kedai makanan tradisional, restoran kecil dan galeri-galeri tampak lebih meriah dari hari biasanya. Mereka menggunakan pernak-pernik berwarna merah dan merah muda. Ucapan happy Valentine bisa ditemui hampir di setiap sudut kedai. Walaupun salju terus turun, namun orang-orang tetap pergi untuk jalan-jalan.

Di Ueno Park juga ada sebuah pertunjukan. Diambil dari dorama Jepang yang tak kalah menariknya dari kisah Romeo dan Juliet, Aishiteru. Para pengunjung memenuhi kursi yang disediakan. Yuka menunggu kedatangan Kenji. Yuka mengenakan mantel bulu panjang hingga kelutut. Malam ini, ia serasikan dengan malam Valentine. Mantel bulunya, sepatu bootsnya, dan topinya semua berwarna merah muda.

Dari kejauhan ia melihat Kenji. Kenji tampak biasa saja. Ia pun urung memberikan coklat spesial untuk Yuka.

Di Jepang, perayaan Valentine pada tanggal 14 Februari, merupakan jadwal para kaum lelaki memberi kado untuk wanita. Biasanya berupa coklat. Jika orang itu spesial, maka coklat yang diberikan adalah yang spesial pula. Tapi jika hanya menggapnya teman maka mereka akan memberikan coklat putih, atau coklat yang murah. Dan perempuan, untuk membalas kadonya adalah saat white day. Yaitu tanggal 14 Maret, bertepatan dengan musim semi. Lalu Kenji mengajaknya menjauh dari tempat pertunjukan. Mereka berhenti dekat sebuah bangku taman. Mereka hanya berdiri, sembari memandangi kerlip lampu dan rangkaian bunga, menghiasi sekitar taman.

“Ada hal yang inginku ceritakan padamu, Yuka. Sebelum kita benar-benar menjadi salju yang meleleh di musim semi. Biarkan ku rasai hati ini melumer sedikit demi sedikit, tentang apa yang telah ku yakini, kini. Maafkan aku, aku tidak bisa bersamamu lagi, Yuka. Dan tentu kita tidak bisa merayakan Valentine. Aku minta maaf .…” ucap Kenji seraya memutar wajahnya ke arah Yuka, lalu berbalik ke hadapan semula.

“Adakah seseorang menawan hatimu? Kita tidak bisa tidak merayakannya, Ken! Dan kita adalah pasangan sejati. Sudah tiga tahun kita jalani ini. Lalu apa kata orang tua kita? Kita harus tetap bersama! Dan malam ini, akan tetap ada Valentine!!” sanggah Yuka.

Kenji melepaskan mantel bulunya. Ia juga mencopot topi bundar panjang, yang menutupi hingga telinganya. Apa yang Yuka lihat, benar-benar membuatnya tercengang. Ia sangat tahu, apa yang dikenakan Kenji mirip seperti mahasiswa Indonesia dan Timur Tengah Dan apakah itu artinya? Yuka menggeleng keras, menampik pikirannya yang sempat menerka.

“Saat ini aku telah muslim, Yuka .…” jelas Kenji. Mantel dan topi tebalnya berganti pakaian gamis, dan sebuah sulaman peci putih.

“Tidak, Ken! Bukankah kau membenci segala sesuatu berbau dengan Islam? Kau lupa ketika kau pernah membentak seorang mahasiswa Indonesia, lantaran ia sering meminta izin untuk berdoa. Padahal saat itu, kau sedang menyampaikan makalah. Kau tau Ken, kita menyukai anjing, dan mereka tidak. Bahkan seperti jijik! Kau bukan Kenji!” sanggah Yuka. Matanya nanar. Ditahannya gejolak yang membadai di jiwanya.

“Aku memang bukan Kenji yang dulu, Yuka. Kini aku bernama Ahmad. Atau lebih tepatnya Muhammad Kenji Abdullah!”

“Ingat Kenji, apakah Tuhanmu mau menerimamu? Sedang kau banyak berbuat jahat kepada pengikutNya!”

“Maafkan aku Yuka. Ini adalah jalan yang telah ku pilih. Bahkan Ia menunjukkan jalan cintaNya padaku secara tiba-tiba dan sangat menghentak jiwaku. Hanya bisa dirasakan ketika pintu hidayah telah menyapamu. Aku tetap tidak bisa berbalik arah. Meski aku harus belajar dari awal, dan tentu akan banyak halangan yang ku temui nanti. Mungkin teman-teman satu organisasi kerohanian, akan marah padaku. Tapi itu tidak masalah. Aku yakin mereka menerima perbedaan ini. Sungguh, betapa aku masih tetap ingin menjalani sebagian hidupku bersamamu dan ikut merayakan Valentine. Tapi aku tidak bisa, sebagaimana agamaku melarang untuk mengikuti ajaran agama lain. Dan melarang, meski hanya ikut memperingatinya saja.” jelas Kenji.

“Dungu kau, Ken! Penjaga neraka mana yang telah melibas pikiranmu?!” Yuka tak bisa meredam emosi.

“Dan, aku harap kau memanggilku dengan sebuatan Ahmad! Aku percaya kau adalah orang yang sangat menghargai perbedaan. Suatu hari kau akan menerima perbedaan ini. Aku yakin pada hatimu yang masih seperti jasmine.” Kenji memberikan setangkai chrysant dan sebuah buku. Sebuah pemberian terakhirnya, dan permohonannya sebagai sahabat. Yuka memandangnya sekilas, “Mencari Damai dengan Napas Islam”.

Yuka tak bisa meredam emosinya. Suaranya menangis sesenggukan. Yuka menghempaskannya ke tanah putih yang dingin. Yuka kemudian berlari meninggalkan Kenji. Langkah kakinya yang cepat sempat menginjak hadiah pemberian Kenji.

Alhamdulillaah, semoga ini bisa menebus kesalahanku padaMu, Robbi .…” ucap Kenji lirih.

Kenji mengepalkan jemarinya meneguhkan keyakinannya. Ada tetesan bagai bola kristal yang pecah, menggelincir pelan di wajah Kenji. Sayangnya Yuka tak mengetahui.

Tulisan ini terinspirasi dari dua sahabat mbak Yazmin Aisyah dan kak Agus Kindi. Banyak belajar dari penulis seperti mereka.^_^

Oleh: Betty Permana S (Sedamai Lazuardi)

Anggota FLP cabang Metro

Terbit di Majalah Asy-Syifa edisi 1 (Januari-Februari 2012)

 

Lacofestival 2016 Ajang Unjuk Kebolehan Kopi Lampung!

lacofest

Salam buat penggemar fotografi khususnya pengguna instagram di Lampung.

Kami dari Lampung Coffee Festival mengadakan lomba foto dengan tema “Robusta Lampung”.

Lomba foto ini bertujuan untuk lebih mengangkat citra kopi robusta Lampung, baik untuk penikmat kopi di Lampung dan luar Lampung.

Ajak kawan-kawanmu untuk datang ke acara Lacofest 2016 di Mal Boemi Kedaton.

Follow juga akun IG kami @lampungsegalow dan @lacofest Pemenang akan mendapatkan hadiah berupa:

Juara I: Uang tunai Rp. 1.500.000,-

Juara II: Uang tunai Rp. 1.000.000,-

Juara III: Uang tunai Rp. 500.000,-

 

Pelaksanaan lomba 7-8 Desember 2016, di Mal Boemi Kedaton.

SYARAT:

1. Foto hasil karya sendiri.

2. Follow instagram @lampungsegalow dan @lacofest

3.Tulis caption yang menarik untuk mendukung fotomu.

4. Gunakan tagar #lacofest2016 #robustalampung #lampungsegalow

5. Mention dan tag IG. @lampungsegalow dan @lacofest

6. Akun IGmu tidak digembok.

7. Boleh upload foto sebanyak-banyaknya.

KETENTUAN LAIN:

1. Terbuka bagi seluruh penggemar fotografi di Instagram.

2. Foto diambil selama acara Lacofest berlangsung

3. Foto tidak mengandung SARA, sadisme, dan pornografi.

4. Tidak boleh foto gabungan, kombinasi lebih dari satu foto.

5. Juri: Yopie Pangkey dan Budhi Marta Utama

6. Keputusan juri mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.

7. Pengumuman pemenang tanggal 8 Desember 2016 pada saat penutupan acara.

lacofest4

Serunya Musim Panas Keliling Melbourne!

melbourn

Keterang gambar : hasil googling, semoga berkenan.

Hai, backpacker lovers! Kali ini saya akan mengajak backpacker lovers untuk intip serunya wisata ke Australia!

Australia adalah negeri yang identik dengan hewan berkantongnya. Negara ini merupakan negara yang memiliki empat musim. Musim panas di Australia sekitar bulan Desember hingga Januari. Seperti negera empat musim lainnya, biasanya liburan sekolah berada saat musim panas. Kali ini saya ingin membahas kota terpenting kedua dari segi bisnis dan kedua terbesar di Australia serta kota terbesar di Victoria, apa lagi kalau bukan Melbourne!

Melbourne adalah ibu kota negara bagian Victoria di  Australia. Melbourne terletak di dekat teluk besar alam, yaitu ‘Port Philip Bay’. Pusatnya berada di muara sungai Yarra, dengan kawasan pinggiran di sekitar teluk ke arah timur dan barat.

Curah hujan rata-rata tahunan untuk Melbourne sekitar 600mm. Juni dan Juli adalah bulan-bulan paling dingin, dan Oktober bulan paling sering hujan. Suhu udara tertinggi Melbourne biasanya terjadi di bulan Januari dan Februari, di mana cuaca umumnya kering dan panas dengan suhu rata-rata berkisar antara 15 – 26°C.

Beberapa objek wisata yang seru untuk dikunjungi mengisi musim panas di Australia khususnya liburan musim panas di Melbourne adalah sebagai berikut :

  1. Queen Victoria Gardensmel2

Queen Victoria Gardens terletak di dekat Melbourne yang masih menjadi bagian dari Domain Parklands, selain Royal Botanical Garden, Kings Domain, dan Alexandra Garden. Taman yang terletak di St. Kilda Road ini juga kerap disebut sebagai Queen Victoria Memorial karena banyak ornamen taman yang sangat erat kaitannya dengan Ratu Victoria ini.

Untuk menuju Queen Victoria Garden ini, backpacker lovers tidak perlu khawatir akan kesusahan mencari petunjuk sebab selain mendapatkan petunjuk di Melbourne Visitor Centre yang letaknya di sekitar Federation Square. Transportasi di Melbourne  tidak menyulitkan pengunjung yang masih awam.

Jika  berasal dari kawasan Federation Square, maka backpacker lovers hanya tinggal menyebrangi jembatan dan tinggal lurus saja hingga menemukan taman  hijau nan luas. Backpacker lovers bisa mencoba layanan gratis dari pemerintahan Melbourne yaitu Melbourne City Tourist Shuttle Bus yang khusus diperuntukkan kepada turis yang ingin mengunjungi tempat-tempat wisata andalan kota ini.

2. Yarra River Melbourne

yarra-river

Melihat indahnya Melbourne melalui sungai Yarra. Kita akan diajak berkeliling Melbourne dengan menggunakan kapal. Kendaraan yang biasa digunakan turis  berupa Classic Steamboat Cruises, sesuai namanya kita dapat menikmati pemandangan kota Melbourne di atas perahu klasik ala tahun 1924. Selain itu ada juga Melbourne River Cruises yang memiliki suasana berbeda, memiliki konsep lebih modern. Berkisar 11.3 km dari Moonlit Sanctuary Wildlife Conservation Park. Akses / transportasi menuju kawasan ini salah satunya adalah dengan naik kereta yang berhenti di stasiun Flinders Street. Melihat keindahan ini, kita sedikit tahu bahwa mereka memiliki budaya bersih dari pada sungai yang ada di negara kita. Semoga ke depan sungai-sungai di negeri ini dapat terlihat indah ya backpacker lovers!

3. Pearcedale Moonlit Sanctuary

Backpacker lovers ingin lihat koala? Atau Kanguru?? Iyapz, di sini backpacker lovers bisa mewujudkannya! Yeay! Tempat ini beralamat di 550 Tyabb-Tooradin Rd, Pearcedale VIC 3912 , dekat dengan kawasan Melbbourne. Bisa naik kereta jalan Flinders. Kita juga bisa melihat Wallaby atau kanguru kecil dan berbagai hewan khas Australia lainnya.

mel

4. Museum Melbourne

mel3

Di Melbourne ada cukup banyak pilihan museum, mulai dari museum Galeri Nasional Victoria, National Sport Museum, Backwoods GalleryAustralian Racing Museum, Museum Melbourne, dan masih banyak yang lainnya! Di Museum Melbourne kita bisa gunakan waktu untuk berjalan-jalan melihat koleksi flora dan fauna yang di tata dengan modern dan apik. Kita juga dapat melihat berbagai jenis serangga dan beragam jenis kupu-kupu. Ada pula rangka dinosaurus yang raksasa, sangat keren untuk berfoto ria! Selain itu, museum ini memuat sejarah suku Aborigin, suku khas Australia.

5. Great Ocean Road

Tempat yang saaangat indah, seru, yang bisa kita kunjungi saat musim panas di Melbourne adalah Great Ocean Road. Rugi kalau nggak ke sini. Backpacker lovers bisa menggunakan jasa tour atau jasa travel http://www.hisgo.co.id/Contents/index.aspx untuk memudahkan menuju kawasan ini. Ada opsi menarik untuk menuju ke kawasan ini dengan menggunakan HIS http://his-travel.co.id/  backpacker lovers bisa visit linknya.

Great Ocen Road merupakan destinasi wisata yang menakjubkan dan merupakan National Heritage Australia , 151 mil bentangan jalan di sepanjang pantai selatan-timur Australia antara kota Victoria Torquay dan Allansford. Dibangun oleh tentara antara tahun 1919 dan 1932, didedikasikan untuk tentara yang tewas selama Perang Dunia I, peringatan perang terbesar di dunia. Meski memiliki cerita yang menyedihkan, tapi destinasi ini  menyuguhkan pemandangan yang indah. Berkelok-kelok melalui berbagai medan sepanjang pantai dan menyediakan akses ke beberapa landmark yang menonjol, termasuk Twelve Apostles formasi batu kapur tumpukan, seperti Grand Canyon (menurut pendapat penulis, hehe), sebelum sampai Twelve Apostles kita juga melewati Wild Kangaroo pemandangan rerumputan indah, menuju London Bridge kita melewati jalan yang sangat tidak biasa seperti di negeri sendiri (ya, iyalah) ada pepohonan berwarna merah berbaris mewarnai jalan yang indah, dan akhirnya kita menemukan pantai! Tentu dengan pemandangan yang indah dari alam.

mel5

6. Queen Victoria Market

Terakhir, Queen Victoria Market. Ini pasarnya Melbourne! Kalau ke Melbourne belum valid kalau nggak berkunjung ke sini. Menurut informasi yang di dapat, wisatawan Indonesia yang ke Melbourne biasanya mengunjungi tempat ini. Pasar yang bersih, rapi, tertata. Backpacker lovers bisa beli oleh-oleh di sini! Akses menuju ke pasar ini bisa menggunakan Tourist Shuttle Bus Gratis atau naik trem.

vic

Eits, buat backpacker lovers yang suka kulier, jangan lupa juga mumpung masih di Melbourne alias Australi, kita bisa cobain beberapa makanan khas seperti Lamington dan Damper. Lamington terbuat dari sponge cake yang dilapisi dengan cokelat dan ditaburi dengan kelapa parut kering. Lamington juga sering dikenal sebagai makanan nasional Asutralia. Sedangkan Damper roti yang terbuat dari tepung gandum, dan merupakan roti tradisional Australia.

Selain itu, makanan yang juga sering dijumpai (hasil wawancara singkat dengan seorang teman yang pernah di sana) adalah toas atau roti bakar ditemani kopi atau susu. Namun berdasarkan pencarian info, makanan yang benar-benar khas belum dapat saya temui di jelajah googling karena saya belum pernah ke sana, hanya beberapa makanan Asia ketika saya berusaha mencari makanan yang benar-benar khas di Melbourne. Tapi dari apa yang saya baca, sepertinya mereka suka makan roti dan juga minum bir atau kopi. Sandwich, spaghetti, chicken salad banyak dijumpai saat makan siang.

Semoga bermanfaat, dan membuat backpacker lovers tertarik pergi ke Melbourne!

Oya dari semua ulasan di atas, saya punya pilihan menarik untuk wisata ke Austalia dengan open link ini  http://his-travel.co.id/australia

https://kawaiibeautyjapan.com/campaign/present-22/track.js

https://www.facebook.com/HISTravelIndonesia

#HISAustraliaTrip

Si Pemimpi Dari Bumi Jawa

Jpeg

Tabik pun…! Ya pun…!

Hai, readers! Kali ini pada tema #MudaBikinBangga  saya akan mengupas sosok mudi  yang semangatnya, membuat saya tertegun. Mungkin saya belum semampu dia. Mampu dalam artian, mampu menciptakan mimpi. Apakah mimpinya? Dan siapakah mudi ini?

Namanya Ranti Suci Lestari. Orang keturunan Jawa yang lahir dan besar di Lampung. Terlahir dari orang tua yang mata pencahariannya sebagai buruh, tak membuat mimpinya lesap ditelan keadaan. Satu mimpinya, bisa kuliah! Mungkin banyak cerita jenis ini, akan tetapi saya menjadi saksi hidup, menyaksikan secara langsung sedari ia lulus sekolah hingga sekarang ia sudah menempati semester skripsi  alias semester akhir. Tentunya dengan segala cerita suka duka menjalani perkuliahannya.

Orang tua dan Keluarga menentang

Orang tuanya menyekolahkan mudi ini di sekolah kejuruan tak lain, supaya bisa cepat cari kerja tanpa perlu kuliah. Akan tetapi, ia memiliki pandangan lain, dan keluarga tidak mendukung, karena tidak bisa membiayai perkuliahan. Sehari-hari ibunya menjual bakpao dan kue basah lainnya di sebuah pondok, tidak mesti habis. Ayahnya, seorang buruh angkut dengan mobil truk, ia juga masih memiliki adik yang wasih berkewajiban untuk disekolahkan. Dengan kondisi itu semua ia siap mengambil segala resiko. Ia pun memilih kuliah. Ia ingin mengubah hidup, mengubah semuanya. Ingin membuktikan jika ia bisa sukses, tidak hanya dengan tamat sekolah.

Ia kuliah. Sekilas tampak biasa saja. Tapi di balik itu, ia berusaha bagaimana caranya agar bisa membiayai kuliahnya dengan tanpa uang orang tua. Ia beberapa kali melakukan bisnis. Sambil kuliah ia sambil berjualan. Berjualan air kesehatan a.k.a ka*gen wa*er dan rajut buatannya! Ia juga mendapat beasiswa bidik misi! Beasiswa bidik misi adalah beasiswa yang diberikan kampus untuk mahasiswa berprestasi dan mampu mempertahankan IPKnya.

Walau ia sibuk mempertahankan IPKnya, hal itu tak membuatnya menjadi mahasiswa individualis yang hanya memikirkan diri sendiri dengan study oriented. Ia menambah skillnya di berbagai organisasi. Bisa kita bayangkan bagaimana capeknya? Seiring berjalannya waktu, ayahnya sempat sakit selama sebulan di rawat. Dan mengharuskan untuk cuci darah dua kali dalam seminggu mulai saat itu dan sampai hari ini. Kesehatan ayahnya yang seperti itu sangat memperngaruhi kondisi ekonominya. Tapi ia tetap tegar menghadapi semuanya, seolah biasa saja.

Ia tetap bisa mempertahankan IPKnya untuk mendapatkan beasiswa bidik misi, dan juga sempat IPKnya naik dari 3 koma sekian menjadi 4,00. Selain itu, ia mendapatkan kesempatan beasiswa lagi dari sebuah bank, dan membuatnya menjadi terbantu untuk memenuhi kebutuhan lainnya. Ranti, sebagai mahasiswi yang aktif di berbagai kegiatan, ia tetap melakukan solat lima waktu, berusaha menjadi pribadi yang tidak hanya berusaha dengan tenaganya, tapi juga dengan kuasaNya. Itu semua karena rasa syukurnya kepada Allah yang telah memberikan kesempatan dan kekuatan. Prestasinya apakah cukup sampai di situ? Tidak!

Ia hobi menulis dan tulisannya telah terbit di sebuah situs bonafit sebut saja An-nida Online dan beberapa sudah terbit menjadi buku kumpulan cerpen bersama teman-teman penulisnya. Sebentar lagi, ia akan mencapai cita-citanya, jadi sarjana! Tapi sebelum sukses dengan citanya, ia sudah lebih dulu sukses, sukses menginspirasi orang yang ada di sekitarnya, dan semoga pembaca blog ini pun terinpirasi! Doakan ia sukses ya!

Kata motivasi mudi kelahiran 9 Juli 1994 adalah “Kerikil dan bebatuan tak ‘kan hilang dari tanah, menapakinya adalah jalan terbaik, karena tak ada pencapaian di tengah perjalanan!”

rr

 

Oya, buat reader, jangan lupa pasang aplikasi Kurio, karena reader bakal dapat info-info terkini dan keunggulannya adalah tidak propokatif dan no hoax, lho! Bagus buat kita generasi muda Indonesia yang hobi nulis blog seperti saya!

kr